Bupati KKT Jangan Cuci Tangan, Jangan Mau Yang Enak Sedangkan Pejabat Lain Yang Harus Pasang Badan.

banner 468x60


Jakarta- Peristiwa aksi spontan dari warga masyarakat Lermatang yang hampir mengenai Sekda KKT harusnya peristiwa tersebut tidak perlu sampai terjadi jika Bupati KKT dalam hal ini Ricky Jauwerissa paham dan tau pola seperti apa yang perlu di pakai agar bisa meredam amukan masa.

Hal ini sudah perna di wanti wanti semenjak jau jauh hari jika Bupati KKT mengerti dan paham terkait apa yang di inginkan masyarakat setempat. Tapi faktaya Bupati KKT tidak paham dan tidak mengerti apa yang di inginkan oleh masyarakat yang nantinya terkenah dampak akibat beroperasinya Block Migas Abadi ini.

Gilang kelyombar Komisaris Utama PT YOHMA KELY Group, dalam rilis yang di sampaikan kepada media ini menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang di alami oleh Sekda KKT. Kenapa bukan Bupati KKT yang turun untuk bertemu warga desa Lermatang, kenapa musti harus meminta Sekda yang harus berhadapan dengan masyarakat desa Lermatang. Bupati KKT jangan mau enaknya saja lalu di telan tapi pahitnya kasi ke pejabat yang lain yang harus menerima imbas akibat bupati yang tidak memahami apa yang di inginkan masyatakat setempat.

Masyarakat tanimbar semua pada tau bahwa hampir sebagian besar lahan yang nantinya di pakai untuk membangun segala infrastruktur Block Masela ini sebagian besar lahannya sudah di kuasai oleh Pamannya sendiri yaitu Agustinus Theodorus, lalu kenapa Bupati bukannya turun untuk berhadapan dengan warga masyarakat Lermatang, malah memerintahkan Sekda untuk berhadapan dengan warga, jangan jangan Bupati KKT hanya mau ambil enaknya saja nanti sudah selesai baru Bupati Pukul dada bahwa karena beliau makanya semua bisa aman, ataukah bupati hanya mau ambil enaknya saja, nanti bagian susahnya baru di serahkan buat pejabat yang lainnya.

Bupati Ricky Jauwerissa bukanlah sosok pemimpin yang baik, jika pemimpin yang baik maka beliau tidak lari dari tanggung jawabnya, harusnya beliau turun untuk berhadapan dengan masyarakat, kenapa harus korbankan pejabat lainnya untuk menjadi tumbal amukan rakyat? Semenjak awal pun sudah di prediksikan bleiau tidak paham dengan yang namanya masalah Migas ini karena bukan besik beliau. Bagaimana masyarakat tanimbar menaruh nasib masa depan mereka di tangan beliau kalau menghadapi rakyat saja beliau tidak mampu, dan malah memilih untuk memerintahkan pejabat yang lain untuk bisa di jadikan korban amukan warga.

Lanjut Gilang yang getol meneriaki kepemimpinan Saat ini yang tidak peduli nasib rakyatnya dan lebih mementingkan kepentingan sang Paman serta kroni kroninya ini menegaskan bahwa, Jika Bupati Ricky Jauwerissa tidak mampu dan tidak sanggup menjadi bupati maka sebaiknya mengundurkan diri dengan hormat, karena menjadi Seorang pemimpin daerah tidak sama dengan memimpin sebuah perusahan kecil atau menjadi seorang pemilik toko yang hanya bisanya mengejar bagaimana cara menjual produknya agar produknya tersebut cepat laku.

Ini sala satu bukti bahwa masyarakat tanimbar telah memilih seorang pemimpin yang salah, ini salah satu contoh kongkrit yang telah di tunjukan oleh seorang Bupati Tanimbar.

Seharusnya menjadi seorang Pemimpin daerah tidak seperti ini cara kepemimpinannya, bagaimana nasib rakyatnyan kalau jiwa pengorbanan dari seorang pemimpin kita seperti ini. Bupati bagaikan seorang Jurumudi, bagaimana bisa seorang jurumudi sebuah kapal yang sedang menahkodai sebuah kapal dengan muatan penuh dengan nyawa manusia di tengah badai gelombang, di saat gelobang datang menghantam sang nahkoda memilih menyelamatkan dirinya lebih dulu dan memilih kabur dengan sekocinya, sedangkan para penumpang di biarkan tenggelam di hantam badai dan gelombang. Ini namanya bukanlah seorang nahkoda kapal yang baik.

Jangan jangan Bupati tanimbar saat ini tujuan bertarung agar menjadi Bupati semata mata hanya demi menyelesaikan UP3 milik pamannya? Jika memang demikian maka tamatlah sudah nasib masyarakat Tanimbar kedepannya.

Semua ini akan menambah deretan panjang permasalahan yang bakal di hadapi oleh masyarakat tanimbar nantinya.

Apalagi ke depan kita tidak tau bagaimana nasib masyarakat tanimbar dengan adanya Block Masela ini apakah dengan kepemimpinan seperti Bupati saat ini apakah hak hak kita sebagai masyarakat terdampak akan mendapatian hak hak kita selayaknya ataukah hak kita akan di kebiri dan kita akan menjadi penontin di tanah kita sendiri?

Harapan besar saya dan semua masyarakat tanumbar adalah, Semoga semua yang kita kuatirkan tidak terjadi kepada masyarakat Tanimbar nantinya serta dengan adanya Block gas abadi ini bukqn menjadi musibah bagi kita tetapi harus menjadi berkat bagi masyarakat tanimbar serta masyarakat maluku pada umumnya.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *