Pola Kerja Pemda KKT Sudah Seperti Pemadam Kebakaran

banner 468x60
SAUMLAKI – Eskalasi ketegangan antara komponen kepemudaan dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Tanimbar kian memuncak. Pasca seruan aksi besar-besaran, Pemda Tanimbar dinilai mulai “gelisah” dan menunjukkan pola kerja layaknya pemadam kebakaran: bergerak mendadak, tanpa konsep matang, dan hanya bersifat seremonial demi meredam gejolak publik terkait pengoperasian Blok Masela.

Kritik Tajam KNPI: Seremonial Tanpa Substansi

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tanimbar menilai berbagai upaya yang dilakukan Pemda saat ini jauh dari harapan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dianggap hanya kedok untuk memperlihatkan seolah-olah pemerintah siap menyambut proyek strategis nasional tersebut, padahal kenyataannya terjebak dalam rangkaian agenda tak terkonsep.

“Pemda Tanimbar memiliki agenda tersendiri yang jauh dari ekspektasi komponen masyarakat. Mereka hanya bertindak sebagai pemadam kebakaran, melakukan aksi reaktif tanpa solusi jangka panjang yang jelas,” tegas Ketua KNPI  alex Belay.

Komitmen Boikot Groundbreaking dan Bongkar “Tabir Kebusukan”

Menyikapi kondisi ini, KNPI menegaskan komitmennya untuk tetap melaksanakan agenda Boikot Groundbreaking yang dijadwalkan pasca bulan April mendatang. Aksi ini bukan sekadar protes, melainkan upaya untuk membuka “tabir kebusukan” yang selama ini diduga disembunyikan di balik tirani kekuasaan.
Beberapa poin krusial yang disorot oleh KNPI antara lain:
Nepotisme Perekrutan: Dugaan keterlibatan anak dan sanak saudara pejabat publik dalam rekrutmen tenaga kerja lokal.
Monopoli Vendor: Ketidaktransparan dalam penunjukan vendor lokal yang hanya menguntungkan pihak tertentu.
Sengketa Lahan: Pola penyelesaian sengketa tanah oleh Pemda yang terkesan parsial dan tidak menyentuh akar persoalan.
Minim Partisipasi: Gaya pemerintahan yang menutup diri dari partisipasi nyata rakyat Tanimbar.

Dorongan Kembali ke Titik Nol

Lebih jauh, KNPI menyerukan sikap radikal jika transparansi dan keberpihakan pada rakyat tidak segera terwujud. “Jika agenda ini terus berlanjut dengan cara-cara kotor, lebih baik kita mendorong untuk menghentikan semua proses dan kembali ke titik nol,” lanjutnya.
KNPI menekankan bahwa anak Tanimbar harus berdiri tegak di tanah leluhurnya sendiri. Perjuangan ini dianggap harga mati demi memastikan masa depan Tanimbar tidak hanya menjadi penonton di tengah eksploitasi kekayaan alamnya sendiri. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *